Friday, February 17, 2012

ESSAY TIME!

working on an essay about my achievement, for school work. first, sorry, my essay is using indonesian because, yea, i'm too lazy to write the english version. it's about a half of my effort (because i'm still on it) to becoming a dancer. enjoy, folks!



           Pada awalnya, saya tidak pernah tertarik untuk menggeluti dunia seni, tepatnya seni tari. Berawal dari trauma saya yang harus dioperasi sinusitis karena terlalu lelah latihan color guard, saya tidak ingin meneruskan langkah saya dalam dunia tari. Sampai akhirnya, melalui sebuah pengumuman yang disiarkan lewat pengeras suara saat ulangan umum kelas 7, tentang program overseas ke Korea Selatan, saya iseng-iseng ingin mencoba, dengan pemikiran saya tidak mempunyai dasar apa-apa dalam tari tradisional selain kelenturan tubuh yang berlebihan.

      Ternyata Allah berkata lain. Hebatnya, saat itu saya terpilih untuk masuk ke dalam tim tari, walaupun bukan tarian utama (dalam program ini, saman). Dua bulan pertama sangat melatih kesabaran saya. Ingatan saya yang lemah benar-benar menjadi  sasaran empuk untuk bahan omelan Bang Degam, guru tari saya, dan rentetan kritik membangun dari Ibu Inov, guru yang menjadi pendamping tim tari Indonesia selama program overseas tersebut. Sebelum keberangkatan, tim saman kolosal kami (gabungan dari seluruh tim tari overseas) mengikuti beberapa lomba saman. Saya selalu menjadi cadangan, dan hanya pernah dipilih sekali untuk menggantikan teman yang sakit. Kekecewaan saya terhadap diri saya, sepertinya menjadi motivasi terbesar saya untuk bangkit. Tetapi, waktunya tidak cukup. Walaupun kemampuan saya sudah berkembang jauh, pada akhirnya saya tetap menjadi penari yang selalu terletak di pinggir panggung, walaupun dapat tampil di depan masyarakat asing yang over-excited terhadap budaya Indonesia merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya.
        Hingga akhirnya, pengeras suara  menyiarkan kesempatan kedua saya, yaitu program overseas lagi, sekitar 7 bulan setelah overseas Korea Selatan, yang akan berlangsung di Turki. Untunglah, orangtua saya sangat mendukung keinginan saya untuk mengikuti program tersebut untuk yang kedua kalinya. Saya dan beberapa teman dari SMP Al-Azhar 8 didampingi Ibu Iin, guru SMP Al-Azhar 8, bergabung dengan murid-murid SMP Al-Azhar 9 untuk program overseas kali ini. Jumlah tim keseluruhan yang dapat dibilang sangat minim untuk ukuran overseas tidak menghancurkan semangat saya. Pada bulan ketiga latihan, saat almarhum eyang saya sedang berkunjung kerumah, beliau berkata bahwa ia sangat bangga kepada saya dan ingin saya untuk meneruskan perjuangan saya di dunia tari. Ternyata, permintaan tersebut merupakan permintaan terakhirnya kepada saya sebelum beliau meninggal dunia. Hal itu sempat membuat saya terpukul, tetapi sekaligus menjadi motivasi saya untuk membuat beliau bangga. Berawal dari menjadi team leader Tari Batak, akhirnya saya terpilih untuk menjadi pemain center saman bersama teman saya, Anggita, dan center dari tari rapaie geleng. Orang yang benar-benar melihat perjuangan saya sejak pertama kali menari hingga sekarang adalah Bang Degam dan istrinya, yang juga mengajar tari daerah lainnya. Saya berjuang menghafalkan empat tarian daerah selama lima bulan.             
   Sebelum saya berangkat, saya mendapat kabar bahwa almarhumah nenek saya sakit. Saya memutuskan untuk menjenguknya bersama saudara saya, bermaksud untuk melihat keadaan beliau dan meminta doa untuk kesuksesan program overseas saya yang sudah sangat dekat. Percakapan terakhir saya dengan beliau sebelum saya berangkat, beliau akan selalu mendoakan untuk kesuksesan saya.
      Saat itu saya sudah berada di atas panggung untuk opening ceremony program overseas. Saya berusaha tersenyum, sementara pikiran saya sedang melontarkan berbagai kemungkinan yang terburuk saat penampilan; salah satunya, kehilangan tempo dan salah gerakan. Kesalahan kecil dapat membuat perjuangan saya selama 5 bulan menjadi sia-sia. Saya berusaha menepis pemikiran buruk itu, walaupun sangat susah karena terganggu silaunya kamera-kamera yang menyorot tim tari Indonesia.
   Suara gendang mulai terdengar, dan penonton sangat terlihat antusias. Saya berusaha berkonsentrasi, mengikuti tempo yang semakin cepat. Pergantian pola gerakan saman diiringi tepuk tangan meriah dari penonton. Hingga akhirnya, saat penghormatan terakhir, semua penonton dalam gedung itu memberikan standing applause, hanya untuk tim tari Indonesia, yang membuat hampir seluruh tim tari menangis terharu, termasuk saya. Pada akhir acara, tim tari Indonesia mendapat piagam The Best Performer dari panitia penyelenggara overseas. Saya mendapat ucapan selamat dari beberapa peserta negara lain, serta dari keluarga host family yang kediamannya saya tumpangi selama berada di Turki.
                Di hari ke tiga, saat saya sedang menuju tempat penampilan tari tim Indonesia di sebuah sekolah, saya mendapat pesan singkat dari orangtua saya bahwa nenek saya meninggal dunia. Terulang kata-kata terakhir beliau kepada saya, menambah semangat saya untuk benar-benar memberikan yang terbaik untuk penonton. Hari itu merupakan hari yang paling menantang saya untuk membuktikan tekad saya. Kelompok tari Batak, tim tari saya, diharuskan menari di atas aspal, padahal temperatur hari itu sekitar 5° Celcius, dan hanya menggunakan kebaya yang berbahan tipis hingga membuat seluruh badan saya sakit.
                Menghibur orang sambil memperkenalkan budaya Indonesia merupakan kegiatan yang menyenangkan sekaligus menantang. Menjadi penari bukanlah suatu hal yang mudah, dengan tujuan membuat orang terhibur, memasuki cerita yang kita ceritakan dengan gerakan, bukan dengan kata-kata atau nyanyian, sehingga penonton dapat merasakan emosi yang sama dengan maksud tarian kita. Mungkin orang bilang, perjuangan saya tidaklah se-spektakuler memenangkan kejuaraan lomba dalam bidang akademik. Saya memang mendapat piagam sebagai penghargaan, tetapi bagi saya, penghargaan bagi penari yang terpenting bukanlah piagam, melainkan senyum puas dari penonton yang terhibur melihat tarian saya.

No comments:

Post a Comment